Joko Anwar dikenal sebagai salah satu sutradara paling berpengaruh di industri perfilman Indonesia modern.
Karyanya membentang lintas genre, mulai dari komedi romantis, thriller psikologis, horor supranatural, sampai film superhero adaptasi komik lokal.
Berikut 10 film terbaik karya Joko Anwar yang wajib masuk daftar tontonan, disusun berdasarkan pengaruh, pencapaian, dan reputasinya di dunia perfilman.
1. Pengabdi Setan (2017)
Film ini yang mengukuhkan reputasi Joko Anwar sebagai “raja horor Indonesia”. Pengabdi Setan sukses besar secara komersial dan dipuji kritikus berkat atmosfer mencekam, sound design yang detail, serta kisah keluarga yang tragis di baliknya.
Kesuksesan film ini juga membuka jalan bagi sekuelnya, Pengabdi Setan 2: Communion, yang kembali menghadirkan Tara Basro sebagai pemeran utama. Pengabdi Setan tercatat berhasil meraih lebih dari 4,2 juta penonton bioskop.
2. Ghost in the Cell (2026)
Film terbaru Joko Anwar ini mengambil setting sebuah penjara, tempat kekuatan tak kasat mata mulai membunuh para narapidana secara brutal, memaksa geng-geng musuh dan sipir korup untuk bekerja sama demi bertahan hidup.
Dibintangi Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Bront Palarae, hingga Lukman Sardi, film ini merupakan produksi bersama Indonesia dan Korea Selatan.
Tayang perdana di Berlinale dan Fantastic Fest 2026, Ghost in the Cell dipuji kritikus internasional sebagai perpaduan segar antara horor, dark comedy, dan satire sosial soal korupsi serta ketidakadilan sistem, dengan gaya yang disandingkan sejumlah reviewer seperti “The Shawshank Redemption” bertemu “Hellraiser”. Saat turun layar dari bioskop Indonesia, film ini berhasil mengumpulkan lebih dari 3,3 juta penonton.
3. Pengepungan di Bukit Duri (2025)
Film action thriller ini berlatar Jakarta tahun 2027, mengangkat isu konflik agama dan etnis lewat sorotan tajam terhadap dunia pendidikan, yang menurut Joko Anwar telah “menciptakan mesin-mesin penghasil kekerasan dan berbagai bentuk kebencian, termasuk rasisme”. Dibintangi Morgan Oey, Omara Esteghlal, dan Endy Arfian, film ini merupakan karya panjang ke-11 sang sutradara.
Pengepungan di Bukit Duri sukses besar di bioskop dengan meraih lebih dari 70.000 penonton hanya di hari pertama tayang, menembus 1 juta penonton dalam waktu 10 hari, dan akhirnya turun layar dengan total sekitar 1,8 hingga 1,89 juta penonton, menjadikannya salah satu film thriller terlaris Indonesia.
4. Legenda Kelam Malin Kundang (2025)
Mengangkat legenda rakyat Sumatera Barat ke dalam balutan thriller psikologis modern, film ini mengisahkan Alif, seorang pelukis miniatur yang kehilangan ingatannya usai kecelakaan mobil. Teror batin muncul ketika seorang perempuan tua tiba-tiba datang mengaku sebagai ibu kandungnya, sosok yang sama sekali tidak ia ingat, memaksa Alif mencari tahu apakah wanita itu benar ibunya atau justru ancaman bagi keluarganya. Film ini dibintangi Rio Dewanto, Faradina Mufti, dan Jordan Omar.
Perlu dicatat, di proyek ini Joko Anwar berperan sebagai produser bersama Tia Hasibuan, sementara kursi sutradara dipegang duo Kevin Rahardjo dan Rakhi Hidayat dalam debut penyutradaraan mereka.
Film yang tayang perdana 27 November 2025 ini mendapat sambutan positif dari kritikus sebagai thriller psikologis yang solid, meski data akhir jumlah penontonnya di bioskop belum banyak tercatat mengingat filmnya masih tergolong baru rilis.
5. Perempuan Tanah Jahanam (2019)
Menggabungkan horor, balas dendam, dan folklore Indonesia, film ini dianggap salah satu karya terbaik Joko Anwar sepanjang kariernya. Ceritanya mengikuti Maya yang kembali ke desa asalnya untuk mencari warisan keluarga.
Akting Tara Basro dan Christine Hakim mendapat pujian luas, dan film ini berhasil membawa pulang penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2020. Perempuan Tanah Jahanam meraih lebih dari 1,7 juta penonton di bioskop.
6. A Copy of My Mind (2015)
Film romantis ini berlatar suasana Jakarta saat musim pemilihan presiden, menyoroti dinamika kota lewat kisah cinta Alek, penerjemah DVD bajakan, dan Sari, pegawai salon kecantikan.
Ceritanya yang sederhana namun terasa dekat dengan realitas sosial masyarakat membuat film ini sukses secara kritis, sekaligus mengantarkan Joko Anwar meraih penghargaan Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2015. Sebagai film festival dengan rilis terbatas, data jumlah penonton bioskopnya tidak tercatat secara luas di media.
7. Kala (2007)
Lewat Kala, Joko Anwar mulai masuk ke wilayah dark thriller bergaya neo-noir yang penuh simbol, misteri, dan atmosfer suram. Film ini mengangkat kisah Janus, seorang jurnalis yang menyelidiki kematian misterius lima pria.
Kala meraih penghargaan Pengarah Sinematografi Terbaik dan Penata Artistik Terbaik di Festival Film Indonesia 2007, dan sering disebut sebagai salah satu pelopor genre neo-noir dalam sejarah perfilman Indonesia. Karena dirilis sebelum era pencatatan box office modern di Indonesia, jumlah penonton bioskopnya tidak terdokumentasi secara resmi.
8. Pintu Terlarang (2009)
Diangkat dari novel karya Sekar Ayu Asmara, film psychological thriller ini mengisahkan seorang seniman yang hidupnya diliputi teror misterius dan penuh ancaman.
Pintu Terlarang meraih penghargaan Film Terbaik di Bucheon International Fantastic Film Festival, salah satu festival film genre terbesar di Asia, yang mengukuhkan reputasi internasional Joko Anwar sejak awal kariernya. Sama seperti Kala, data resmi jumlah penonton bioskopnya di Indonesia tidak tercatat secara luas.
9. Siksa Kubur (2024)
Merupakan pengembangan dari film pendek berjudul sama yang dibuat Joko Anwar pada 2012, Siksa Kubur menghadirkan kisah horor tentang sekelompok orang yang terjebak di dalam kubur dan dihantui berbagai makhluk yang ingin menyiksa mereka.
Dibintangi deretan aktor ternama seperti Reza Rahadian, Fachry Albar, dan Christine Hakim, film ini menjadi salah satu horor Indonesia paling dinantikan penggemar berkat rekam jejak Joko Anwar di genre yang sama. Siksa Kubur turun layar setelah 40 hari tayang dengan raihan sekitar 4 juta penonton bioskop.
10. Gundala (2019)
Sebagai film pembuka Jagat Sinema Bumilangit, Gundala diadaptasi dari komik legendaris karya Hasmi dan mengisahkan Sancaka, pria yang tersambar petir dan mendapat kekuatan luar biasa untuk melawan ketidakadilan.
Film ini membuktikan bahwa Indonesia punya kapasitas membangun semesta sinema superhero sendiri, sekaligus menunjukkan fleksibilitas Joko Anwar dalam bereksperimen di luar genre horor dan thriller yang selama ini identik dengannya. Gundala berhasil meraih lebih dari 1,6 juta penonton bioskop.
Kesimpulan
Kesepuluh film di atas menunjukkan rentang kreativitas Joko Anwar yang luas, dari drama sosial personal, horor berbalut folklore lokal, aksi thriller bermuatan kritik sosial, hingga film superhero berskala besar, ditambah karya-karya terbarunya baik sebagai sutradara maupun produser yang membuktikan ia terus relevan di panggung festival internasional.
Konsistensinya menghasilkan karya berkualitas lintas genre inilah yang menjadikannya salah satu sutradara paling dihormati dan berpengaruh dalam perfilman Indonesia modern.