Dedek Bambang Suwito Air Tenang Menghanyutkan

Struktur Tubuh Jamur

6 min read

Struktur Tubuh Jamur

Struktur Tubuh Jamur- Dalam taksonomi, kingdom fungi dibagi menjadi 4 bagian (divisi) berdasarkan cara berkembang biaknya, ada yang secara generatif dan vegetatif. 4 bagian itu diantaranya Ascomycota akspora, Basidiomycota , Deuteromycota dan Zygomycota. Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa jenis jamur (fungi) yang digunakan manusia untuk membantu mereka dalam pembuatan makanan seperti tempe dan oncom.

Perlu di ketahui juga bawah jamur dapat tumbuh dimana saja, banyak sekali tempat yang dapat ditumbuhi oleh jamur. Contohnya tempat pembuangan sampah, pada kayu mati atau kayu lapuk, tumpukan jerami padi bahkan jamur juga tumbuh di kulit manusia yang mengakibtakan rasa gatal.

Berikut ini akan saya menjelaskan struktur tubuh jamur yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, simak baik-baik ya.

Pengertian Jamur (Fungi)

pengertian Jamur
pengertian Jamur. pixabay.com

Jamur atau Fungi adalah salah satu organisme eukariotik yang memiliki sifat heterotrof. Apakah itu heterotrof?

“Heterotrof merupakan salah satu organisme yang tidak bisa membuat makanannya sendiri”

Jamur atau Fungi termasuk kedalam keluarga besar organisme heterotrof  absortif dimana jamur (fungi) mengambil makanan dari lingkungan sekitar melalui  absorbsi. Dahulu, jamur (fungi) diklasifikasikan sebagai salah satu jenis tanaman. Namun, karena jamur (fungi) memiliki ciri-ciri khusus yang akhirnya membedakan dari tanaman seperti dinding sel yang mengandung zat kitin sehingga para ahli mengambil kesimpulan bahwa jamur (fungi) masuk ke dalam kingdom nya sendiri yaitu Kingdom Fungi.

Ciri-ciri Jamur (Fungi)

Ciri-ciri jamur
Ciri-ciri jamur. pixabay.com

Para ahli berpendapat bahwa, Struktur tubuh jamur memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki oleh tanaman. Salah satunya yang membuat berbeda yaitu dinding sel jamur yang mengandung zat kitin yang tidak dimiliki oleh tanaman. Selain itu jamur juga memiliki ciri khas yang lain yang perlu anda ketahui. Adapun ciri-ciri tersebut ialah sebagai berikut:

  • Struktur tubuh jamur (fungi) terdiri dari uniseluler dan multiseluler  (Fungi  multiselur tersusun atas hifa yang membentuk anyaman yang dinamakan miselium)
  • Hifa yang terdapat pada jamur (fungi) terbagi menjadi dua bagian yaitu bersekat dan yang tidak bersekat.
  • Fungsi hifa untuk mengabsorbsi nutrisi dan sebagai alat reproduksi vegetative berupa sporangium dan konidium.
  • Fungi pada struktur tubuh jamur tidak mampu membuat makanannya sendiri karena tidak memiliki klorofil
  • Memiliki sifat heterotrof yaitu dengan menguraikan zat organic (saprofit), parasit fakultatif dan parasit obligat.
  • Dinding sel jamur terbuat dari zat kitin
  • Biasanya habitat jamur pada tempat yang lembab
  • Sistem pencernaan jamur bersifat ekstraseluler
  • Sistem reproduksi yang seksual (generative) dan aseksual (vegetative)
  • Sel Jamur (fungi) terdiri dari mitokondria, ribosom dan nucleus.
  • Saat jamur menghasilkan spora aseksual yang banyak hal ini disebut dengan Istilah kapang (mold) menunjukkan jamur pada tahap reproduksi aseksual.
  • Jamur Ragi atau khamir , biasanya digunakan pada jamur yang uniseluler.
  • Jamur yang sedang membentuk tubuh buah seperti pada jamur merang disebut Cendawan.

Struktur Tubuh Jamur

Stuktur Tubuh Jamur
Struktur Tubuh Jamur. pixabay.com

Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang struktur tubuh jamur secara umum, bagian-bagian dan fungsinya. Untuk itu silahkan kalian simak baik-baik penjelasan berikut ini.

  • Struktur tubuh jamur (fungi) terdiri dari sel eukariotik yang terbentuk oleh dinding sel yang mengandung zat kitin.
  • Hifa merupakan benang-benang halus yang menyusun tubuh jamur
  • Hifa pada jamur dapat bercabang-cabang yang nantinya akan membentuk jaringan yang disebut misellium.
  • Misellium ini yang akan membentuk jalinan hingga terbentuknya tubuh buah seperti pada jamur merang.
  • Selain itu, jamur memililki septa (hifa pada jamur juga memiliki pembatas atau sekat antar sel). Septa pada jamur mempunyai pori yang lumayan besar sehingga organel sel dapat mengalir dari sel satu ke sel lainnya.
  • Hifa asepta (hifa tidak memiliki sekat) .
  • Adapun hifa yang bercabang-cabang dan membentuk miselium memungkinkan jamur mengabsorbsi nutrisi lebih banyak.
  • Jamur yang memiliki sifat parasitisme mempunyai hifa yang termodifikasi (haustorium)
  • Haustorium ini memiliki ujung yang berfungsi untuk menembus jaringan host dan mengabsorbsi nutrisi dari host.
  • Adapun hifa pada sebagian miselium berdiferensiasi membentuk alat reproduksi yang fungsinya menghasilkan spora. Miselium ini dinamakan dengan misellium generative.

Klasifikasi Jamur (Fungi)

Klasifikasi Sturktur Tubuh Jamur
Klasifikasi Jamur. pixabay.com

Pada kesempatan kali ini saya kan menjelaskan klasifikasi dari jamur (fungi), dalam kingdom ada 4 bagian (divisi) yang nantinya akan saya jelaskan, apa sajakah itu? Simak penjelasan berikut ini dengan baik.

Ascomycota

Ascomycota merupakan salah satu jenis jamur (fungi) yang bentuknya berupa spora, ascomycota terbentuk karena perkembangbiakan secara seksual (generative). Perlu diingat juga bahwa spora ini terbentuk didalam sel gelembung yang memiliki bentuk seperti kantung atau sering disebut dengan askus. Lalu spora dalam sel gelembung inilah yang nantinya akan menghasilkan askospora.

♦ Ciri-ciri Ascomycota

Adapaun ciri-ciri dari ascomycota adalah sebagai berikut:

NO

CIRI-CIRI ASCOMYCOTA

1.Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler
2.Hifanya bersekat dan berinti banyak
3.Mempunyai struktur khusus yang disebut askus (kantong)
4.Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk tunas-tunas, pada multiseluler membentuk spora dari konidia. Secara generatif dengan membentuk askus yang meghasilkan askospora
5.Hidupnya ada yang parasit, saporfit, ada yang bersimbosis dengan ganggang membentuk Lichenes (lumut kerak).

♦ Contoh Ascomycota

Berikut adalah contoh dan manfaat ascomycota dalam kehidupan sehari-hari:

  • Jamur Sacharomyces cerevisae (ragi) untuk membuat bir, roti maupun alkohol.
  • Jamur Penicillium notatumn dan Penicellium chrysogenum, penghasil antibiotik penisilin.
  • Jamur Aspergillus wentii untuk membuat kecap

Basidomycota

Salah satu jenis jamur selanjutnya yaitu Basidiomycota, jamur ini memiliki bentuk tubuh yang besar (Makroskopis), memiliki spora yang berbentuk basidium serta setiap basidiumnya mempunyai 4 macam basidiospora. Perlu diketahu juga bahwa basidiomycota ini berkembang biak dengan cara vegetative (membentuk fragmentasi hifa).

Adapun proses pertumbuhan basidiomycota dimulai dengan adanya perkembangan pada spora konidioum atau basidium, lalu spora basidium ini akan berubah menjadi benang hifa yang mempunyai sekat (septum) sebanyak satu membran sel setelah itu barulah hifa terebut akan membentuk berupoa misellium.

♦ Ciri-ciri Basidiomycota

NO

CIRI-CIRI BASIDIOMYCOTA

1.Berkembang biak secara seksual dengan basidiospora dan aseksual dengan konidispora.
2.Memiliki misellium yang bersekat-sekat, dari misellium tumbuh tubuh buah (basidokrap) yang beraneka ragam bentuknya.
3.Ujung miselium menggelembung membentuk basidium untuk memproduksi empat spora bertangkai.
4.Dalam basidiokarp terdapat jalinan-jalinan benang hifa. Jika benang hifa yang memiliki muatan positif bertemu dengan basidium yang memiliki muatan negatif, maka akan terjadi plasmogami dan membentuk miselium dikariotik.
5.Kebanyakan berukuran makroskopis, hidup sebagai parasit dan saprofit.

♦ Contoh Basidiomycota

  • Jamur merang (Volvariela volvacae), dapat dimakan dan sudah dibudidayakan sama seperti jamur tiram.
  • Jamur kuping (Auricularia polytricha), Bisa dikonsumsi dan dapat dibudidayakan.
  • Jamur beracun (Amanita phalloides dan Amanita muscaria), habitat didaerah subtropis.
  • Jamur api (Ustilago maydis), banyak terdapat pada batang kayu.

Zygomicota

Jenis jamur (fungi) selanjutnya yaitu zygomycota, zygomycota ini memiliki bentuk spora dengan berdinidng sel tebal (zygospora). Zygomycota ini pada umumnya tumbuh dan berkembang pada daratan sebagai saprofit yang tidak memiliki klorofil (zat hijau daun) dan memiliki hifa ytang tidak bersekat (septum) serta memiliki banyak inti sel.

Zygomycota ini berkembnag biak dengan cara vegetative, yaitu terbentuk sebagai aplanospora (Tumbuh dan berkembang pada ekosistem daratan) dan Zoospore (Tumbuh dan berkembang pada ekosistem perairan). Lalu zygomycota yang berkembang biak secara generative membentuk Oogami atau Gametaniogami.

♦ Ciri-ciri Zygomycota

NO

CIRI-CIRI ZYGOMYCOTA

1.Reproduksi aseksual dengan membentuk spora, sedangkan reproduksi seksual dengan konjungsi antara dua hifa yang menghasilkan zigospora.
2.Tubuh bersel banyak, hifa membentuk anyaman (miselium) yang tidak bersekat.
3.Hidup sebagai saprofit.
4.Hampir semua anggotanya hidup didarat.

♦ Contoh Zygomycota

  • Jamur Rhizopus Stoloniferus, untuk membuat tempe
  • Jamur Rhizopus Nigricans, jamur roti penghasil asam fumarat.
  • Jamur Pilobolus Adalah salah satu jamur yang biasa hidup pada kotoran hewan yang telah terdekomposisi. Jamur jenis ini tidak bisa melakukan reproduksi tanpa adanya bantuan dari cahaya. Jamur ini menunjukkan respon positif terhadap cahaya.
  • Jamur Mucor mucedo Hidup pada kotoran ternak
  • Jamur Rhizopus nigricans Menghasilkan asam fumarat, pemasak buah
  • Jamur Rhizopus nodusus Menghasilkan asam laktat.

Deuteromycota

Salah satu jenis jamu (fungi) selanjutnya ialah Dueteromycota, dari keempat jenis jamur yang ada hanya deuteromycota inilah yang belum diketahui cara reproduksi seksualnya. Mengapa demikian? Ya karena deuteromycota ini merupakan jamur yang tidak sempurna dan bersifat saprofit pada materi senyawa organik.

Jamur jenis ini sebagian hidup sebagai parasit pada tumbuhan tingkat tinggi, jamur inilah menjadi penyebab utama rusaknya beberapa tanaman budidaya, Jamur ini dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan menyebabkan pelapukan pada pohon berkayu.

♦ Ciri-ciri Deuteromycota

NO

CIRI-CIRI DEUTEROMYCOTA

1.Hifanya bersekat
2.Hidup sebagai saprofit dan parasit
3.Perkembangbiakan aseksual dengan konidia.
4.Jamur tak sempurna fungi (imferfecti)
5.Belum diketahui cara reproduksi generatifnya.
6.Tubuh berukuran mikroskopis

♦ Contoh Deuteromycota

  • Jamur Monillia sitophila (jamu oncom)
  • Jamur Ephidermophyton floocosum, menyebabkan penyakit pada kaki atlet.
  • Jamur Curvularia sp, hidup parasit pada tumbuhan
  • Jamur Microsporum sp, dan Trighophyton sp, menyebabkan penyakit kurap.

Sistem Reproduksi Jamur (Fungi)

Sistem Reproduksi Jamur
Sistem Reproduksi Jamur. pixabay.com

Reproduksi pada jamur (fungi) terbagi menjadi dua bagian yaitu generative (seksual) dan vegetative (aseksual), berikut penjabarannya.

♥ Reproduksi Secara Generatif (Seksual)

Biasanya jamur bereproduksi secara generative karena kondisi lingkungan yang berubah atau pada kondisi darurat lainnya. Keturunan yang dihasilkan memiliki genetic yang beragam dan lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.

  1. Reproduksi secara generative didahului dengan pembentukan spora seksual yang memiliki jenis hifa yang berbeda.
  2. Memiliki Hifa (+) dan hifa (-) yang berkromosom haploid (n) mendekat dan membentuk organ yang menghasilkan gamet (gametangium).
  3. Gametangium berplasmogami adalah peleburan sitoplasma kemudian membentuk zigosporangium dikariotik (heterokarotik) dengan pasangan nucleus haploid yang belum menyatu. Zigosporangium ini mempunyai dinding sel yang tebal dan kasar sehingga dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang buruk dan kering.
  4. Apabila kondisi lingkungannya baik, zigosporangium akan menjadi kariogami (peleburan inti) sehingga zigosporangium memiliki inti yang berkromosom diploid (2n).
  5. Zigosporangium yang berinti haploid (2n) akan mengalami pembelahan secara mitosis yang dapat menghasilkan zigospora haploid (n) didalam zigosporangium.
  6. Zigospora haploid (n) akan berkecambah serta membentuk sporangium bertangkai pendek dengan kromosom haploid (n).
  7. Sporangium haploid (n) akan menghasilkan spora-spora yang haploid (n) yang memiliki keanekaragaman genetik.
  8. Bila spora-spora haploid (n) jatuh di tempat yang sesuai, spora akan berkecambah (germinasi) menjadi hifa jamur yang haploid (n).

♥ Reproduksi Secara Vegetative (Aseksual)

Pada jamur uniseluler reproduksi vegetative dilakukan dengan pembentukan tunas yang akan tumbuh menjadi individu baru. Dan pada jamur yang bersifat multiseluler dilakukan dengan cara fragmentasi hifa dan pembentukan spora vegetative.

  1. Pemutusan hifa (fragmentasi hifa), potongan hifa yang putus akan tumbuh menjadi individu baru
  2. Pembentukan spora vegetative (berupa sporangiospora dan konidiospora)
  3. Jamur yang telah dewasa menghasilkan tangkai kotak spora (spongiofor)
  4. Pada ujung sporangiofor terdapat sporangium (kotak spora).
  5. Pembelahan sel dilakukan secara mitosis (di dalam kotak spora) dan menghasilkan banyak sporangiospora dengan kromosom yang haploid.
  6. Adapun jamur jenis lain menghasilkan konidiofor (tangkai konidia).
  7. Pada ujung konidiofor terdapat konidium (kotak konidiospora).
  8. Antara sporangiospora maupun konidiospora, bila jatuh pada tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi hifa baru yang haploid.

Itulah artikel pembahasan mengenai struktur tubuh jamur, semoga para pembaca dapat menambah ilmu dan poengetahuan baru mengenai jamur (fungi), Terimakasih telah membaca artikel ini acaterus artikel-artikel selanjutnya ya.

Sekian.

0
Dedek Bambang Suwito Air Tenang Menghanyutkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *